LUMPUR PORONG



Semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, telah menjadi kisah nyata yang sulit dilukiskan bahkan oleh pelukis terbaik sekalipun. Lumpur panas yang terus menyembur sampai sekarang itu berpotensi menjadi gunung.

Kasus terbentuknya gunung lumpur di Indonesia ini bukan yang pertama. Gunung Anyar di perbatasan Surabaya-Sidoarjo juga terbentuk akibat semburan lumpur. Di Kuwu, Purwodadi, dan di Sangiran, Jawa Tengah, semburan lumpur bahkan terus keluar hingga sekarang.

Lumpur yang mengandung zat beracun hidrogen sulfida itu menyembur dari sumur pengeboran gas PT Lapindo Brantas, perusahaan kongsi Bakrie Group, Medco Energy dan Santos.

Bakrie Group adalah perusahaan milik keluarga Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie. Sedangkan Medco Energy adalah perusahaan milik politikus Arifin Panigoro. Dan Santos adalah perusahaan asal Australia.

Saat ini, ribuan warga Desa Renokenongo, Siring, dan Jatirejo telah kehilangan tempat tinggal dan harapannya.

Lumpur itu juga telah menenggelamkan pabrik-pabrik di kawasan industri Sidoarjo dan menimbulkan kerugian ekonomi mencapai ratusan miliar rupiah. Bukan hanya itu, kini ribuan buruh menjadi pengganggur akibat pabrik-pabrik tempat kerja mereka terendam lumpur panas. Akankah PT Lapindo terus berbohong dan cuci tangan?

Amnesia terhadap Gelora Pantjasila Surabaya


Gelora Pantjasila Surabaya yang dibangun 1965, kini sudah tidak digunakan sebagai sarana olahraga. Gedung olahraga berkapasitas 5.000 penonton itu tidak terawat. Pemkot Surabaya sebagai pemegang aset ini tampaknya tidak terlalu terganggu dengan kondisi bangunan yang menyedihkan tersebut. Rabu, (26/5/2010) terlihat polisi anti huru-hara sedang duduk di teras gedung yang kaca jendelanya banyak yang pecah, menunggu dimulainya kampanye calon Wali Kota Independen Surabaya.


Bisa menjadi baik, tapi bisa juga menjadi buruk. Apa yang kita dapatkan, sesuai dengan pilihan kita masing-masing.

KAS Daftarkan Calon Wali Kota Independen


Ketua KPU Surabaya menerima berkas rekapitulasi dukungan dari KAS, Rabu (17/2).


Beberapa waktu lalu Konsolidasi Arek Suroboyo (KAS) melaksanakan fit and proper test sebagai salah satu tahapan kerja dalam menentukan calon Wali Kota Surabaya. Tahapan itu sudah dilakukan dan dilanjutkan dengan rangkaian tahapan yang pada akhirnya memutuskan Fitradjaja Purnama dan Naen Soeryono sebagai pasangan cawali dan cawawali. KAS dan 153 organisasi, lembaga dan komunitas yang tergabung didalamnya, menyerahkan berkas pendaftaran dan rekapitulasi dukungan kepada KPU Surabaya, Rabu, (17/2/2010).

Kehadiran KAS diterima dengan hangat oleh Ketua KPU Surabaya, Eko Waluyo bersama anggota KPU lainnya. Koordinator KAS, Muhaji Abriyah menyatakan bahwa KAS telah mememnuhi persyaratan undang-undang untuk mendaftarkan calon wali kota Surabaya melalui jalur independen. “Saat ini kami sampaikan rekapitulasi 95.000 dukungan dari 124 kelurahan di 31 kecamatan. Berkas dukungan berupa copy KTP akan diserahkan ke PPS di kelurahan-kelurahan,” ujar Muhaji disambut tepuk tangan dari peserta forum.

Sebelum menyerahkan berkas dukungannya, KAS melakukan aksi mimbar bebas di halaman depan kantor KPU Surabaya di Jalan Adityawarman. Aksi yang dipimpin Taufik Monyong ini menyerukan agar kepada segenap anggota struktur kerja dan sekitar seribu penggalang yang selama ini telah bekerja keras untuk tetap solid dan menjaga nafas gerakan dan terus menyosialisasikan gagasan-gagasan perjuangan kita.

“Terimakasih atas kepercayaan yang masih rakyat berikan dan KAS akan menjaga kepercayaan ini serta terus mengawal cita-cita bersama dalam mewujudkan perubahan besar Indonesia,” ujar Taufik dalam orasinya. (*)

Konsolidasi Arek Suroboyo




Deklarasi KAS di Gedung Nasional

BERITA SATU
Sebagaimana kesepakatan para aktivis dan kelompok pergerakan Surabaya yang diambil saat pertemuan di Restoran Jumbo, Bumimoro beberapa waktu lalu, mereka benar-benar merealisasikan wadah baru yang diberi nama Konsolidasi Arek Suroboyo atau disingkat KAS. Realisasi menggelinding melalui rangkaian pertemuan yang dilakukan oleh Tim 33 hasil Pertemuan Jumbo. Puncaknya, kemarin dilaksanakan deklarasi yang dilakukan di Gedung Nasional Indonesia (GNI). Seratusan orang hadir dalam acara sederhana yang diisi juga dengan musik dan performance art.

Wuri Handayani, anggota Tim 33 yang menjadi ketua panitia deklarasi, menyampaikan catatan kerja yang dilakukan tim sampai deklarasi dilakukan. Dia menyinggung tentang tiga kerja yang harus dilakukan, yakni pengorganisasian masyarakat Surabaya sebagai persiapan terbentuknya Dewan Warga, penjaringan dan pemenangan Walikota Surabaya, serta penyusunan agenda-agenda pokok penataan dan pengelolaan Surabaya.

Tjuk Sukiadi dalam orasinya.kembali menekankan perubahan tatanan secara mendasar dan perlunya kalangan reformis memegang kendali pemerintahan. “Ajaklah rakyat dalam konsolidasi dan bersama-sama melakukan perubahan,”tukasnya.

Acara yang sebelumnnya didahului dengan ziarah ke makam Dr. Soetomo di lingkungan Komplek GNI itu diakhiri dengan pembacaan naskah deklarasi yang dilakukan bersama-sama, dipimpin oleh Chrisman Hadi, advokad yang kerap melakukan pembelaan dalam kasus-kasus prodeo, yang juga salah satu anggota Tim 33.