Gelora Pantjasila Surabaya yang dibangun 1965, kini sudah tidak digunakan sebagai sarana olahraga. Gedung olahraga berkapasitas 5.000 penonton itu tidak terawat. Pemkot Surabaya sebagai pemegang aset ini tampaknya tidak terlalu terganggu dengan kondisi bangunan yang menyedihkan tersebut. Rabu, (26/5/2010) terlihat polisi anti huru-hara sedang duduk di teras gedung yang kaca jendelanya banyak yang pecah, menunggu dimulainya kampanye calon Wali Kota Independen Surabaya.
Bukan berarti kami lemah karena kami malas atau bodoh. Orde Baru yang menjadikan kami, orang-orang di kampung, bapak-ibu jutaan anak, para petani tanpa tanah, nelayan tak berperahu, buruh, guru dan banyak di antara kami tak merdeka secara finansial, psikis dan cita-cita.
Amnesia terhadap Gelora Pantjasila Surabaya
Gelora Pantjasila Surabaya yang dibangun 1965, kini sudah tidak digunakan sebagai sarana olahraga. Gedung olahraga berkapasitas 5.000 penonton itu tidak terawat. Pemkot Surabaya sebagai pemegang aset ini tampaknya tidak terlalu terganggu dengan kondisi bangunan yang menyedihkan tersebut. Rabu, (26/5/2010) terlihat polisi anti huru-hara sedang duduk di teras gedung yang kaca jendelanya banyak yang pecah, menunggu dimulainya kampanye calon Wali Kota Independen Surabaya.

Bisa menjadi baik, tapi bisa juga menjadi buruk. Apa yang kita dapatkan, sesuai dengan pilihan kita masing-masing.
KAS Daftarkan Calon Wali Kota Independen

Ketua KPU Surabaya menerima berkas rekapitulasi dukungan dari KAS, Rabu (17/2).
Beberapa waktu lalu Konsolidasi Arek Suroboyo (KAS) melaksanakan fit and proper test sebagai salah satu tahapan kerja dalam menentukan calon Wali Kota Surabaya. Tahapan itu sudah dilakukan dan dilanjutkan dengan rangkaian tahapan yang pada akhirnya memutuskan Fitradjaja Purnama dan Naen Soeryono sebagai pasangan cawali dan cawawali. KAS dan 153 organisasi, lembaga dan komunitas yang tergabung didalamnya, menyerahkan berkas pendaftaran dan rekapitulasi dukungan kepada KPU Surabaya, Rabu, (17/2/2010).
Kehadiran KAS diterima dengan hangat oleh Ketua KPU Surabaya, Eko Waluyo bersama anggota KPU lainnya. Koordinator KAS, Muhaji Abriyah menyatakan bahwa KAS telah mememnuhi persyaratan undang-undang untuk mendaftarkan calon wali kota Surabaya melalui jalur independen. “Saat ini kami sampaikan rekapitulasi 95.000 dukungan dari 124 kelurahan di 31 kecamatan. Berkas dukungan berupa copy KTP akan diserahkan ke PPS di kelurahan-kelurahan,” ujar Muhaji disambut tepuk tangan dari peserta forum.
Sebelum menyerahkan berkas dukungannya, KAS melakukan aksi mimbar bebas di halaman depan kantor KPU Surabaya di Jalan Adityawarman. Aksi yang dipimpin Taufik Monyong ini menyerukan agar kepada segenap anggota struktur kerja dan sekitar seribu penggalang yang selama ini telah bekerja keras untuk tetap solid dan menjaga nafas gerakan dan terus menyosialisasikan gagasan-gagasan perjuangan kita.
“Terimakasih atas kepercayaan yang masih rakyat berikan dan KAS akan menjaga kepercayaan ini serta terus mengawal cita-cita bersama dalam mewujudkan perubahan besar Indonesia,” ujar Taufik dalam orasinya. (*)
Konsolidasi Arek Suroboyo

Deklarasi KAS di Gedung Nasional
BERITA SATU
Sebagaimana kesepakatan para aktivis dan kelompok pergerakan Surabaya yang diambil saat pertemuan di Restoran Jumbo, Bumimoro beberapa waktu lalu, mereka benar-benar merealisasikan wadah baru yang diberi nama Konsolidasi Arek Suroboyo atau disingkat KAS. Realisasi menggelinding melalui rangkaian pertemuan yang dilakukan oleh Tim 33 hasil Pertemuan Jumbo. Puncaknya, kemarin dilaksanakan deklarasi yang dilakukan di Gedung Nasional Indonesia (GNI). Seratusan orang hadir dalam acara sederhana yang diisi juga dengan musik dan performance art.
Wuri Handayani, anggota Tim 33 yang menjadi ketua panitia deklarasi, menyampaikan catatan kerja yang dilakukan tim sampai deklarasi dilakukan. Dia menyinggung tentang tiga kerja yang harus dilakukan, yakni pengorganisasian masyarakat Surabaya sebagai persiapan terbentuknya Dewan Warga, penjaringan dan pemenangan Walikota Surabaya, serta penyusunan agenda-agenda pokok penataan dan pengelolaan Surabaya.
Tjuk Sukiadi dalam orasinya.kembali menekankan perubahan tatanan secara mendasar dan perlunya kalangan reformis memegang kendali pemerintahan. “Ajaklah rakyat dalam konsolidasi dan bersama-sama melakukan perubahan,”tukasnya.
Acara yang sebelumnnya didahului dengan ziarah ke makam Dr. Soetomo di lingkungan Komplek GNI itu diakhiri dengan pembacaan naskah deklarasi yang dilakukan bersama-sama, dipimpin oleh Chrisman Hadi, advokad yang kerap melakukan pembelaan dalam kasus-kasus prodeo, yang juga salah satu anggota Tim 33.
Pertemuan Para Demonstran di Markas AL
BERITA SATU
Aktivis pro demokrasi di Surabaya dari kalangan kampus (dosen dan mahasiswa), LSM, organisasi-organisasi di berbagai elemen masyarakat (pemuda, mahasiswa, akademisi, jurnalis, pengacara, pengusaha kecil, buruh, seniman), yang sejak tahun 80-an aktif melakukan perlawanan terhadap orde baru dan memimpin gerakan reformasi ’98 mengkonsolidir diri ke dalam pertemuan yang mereka beri judul ’Halal Bihalal & Konsolidasi Arek Suroboyo’. Pertemuan ini diadakan di Restoran Jumbo, Kompleks Kodikal, Bumimoro, Perak.
Mereka, yang selama sepuluh tahun terakhir ini banyak bergerak secara terpisah dalam mengemban medan gerak masing-masing, kini kembali membangun komitmen bersama menyikapi momentum pemilihan Wali Kota Surabaya 2010. Para demonstran ini bertekad memberikan pendidikan politik lebih kongkret dengan jalan melibatkan diri dalam pilwali kali ini, dan berniat memajukan calonnya sendiri dari jalur independen.
Pertemuan yang dipandu oleh Muhaji Abriyah, salah seorang tokoh pimpinan gerakan mahasiswa 98, berlangsung gayeng dan serius. Tokoh tua dan muda dari masing-masing elemen, menyampaikan pandangan-pandangannya terkait penataan Surabaya ke depan. Mulai dari apresiasi pemerintah terhadap kesenian yang disampaikan oleh Luhur, pelaku seni yang aktif di Dewan Kesenian Surabaya (DKS), sampai pada kritik keras Ridho Syaiful Ashari, mantan Direktur Walhi Surabaya terhadap pengelolaan lingkungan yang selama ini dinilai jauh dari baik.
Dandik Katjasungkana, pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Timur, yang didaulat mewakili gagasan kelompok pemuda, menegaskan maksud diadakannya pertemuan yang difasilitasi Perkumpulan Kebangsaan Anti Diskriminasi (PeKad) ini, ”Kita tidak usah bertele-tele lagi, langsung saja kerucutkan pembicaraan kita, pada mekanisme pencalonan Wali Kota Surabaya dari kita!”
Tjuk Sukiadi, akademisi Unair yang mewakili golongan tua, memandang politik sekarang dipimpin oleh uang. ”Ndak ada kalangan reformis mendapat ruang dalam politik sekarang ini,” tambahnya.
Fitradjaja Purnama yang mendapat giliran berbicara terakhir menerangkan, bahwa reformasi tidak gagal, meskipun disana-sini banyak kekurangan dan harus diperbaiki. Hanya saja, menurutnya, reformasi tidak berada di tangan rakyat, melainkan dikuasai oleh kepentingan asing yang meneruskan kolaborasinya dengan orang-orang lama yang menjadi bagian dari rezim orde baru. Namun, dia juga memandang, cukuplah reformasi sampai pada posisi sekarang ini. ”Kita sudah musti menata secara serius ke arah revolusi!” serunya.
Fitra juga memandang sudah waktunya kaum pergerakan mengelola politik dengan kekuasaan formal. ”Sudah cukup bagi kita mendampingi partai-partai politik yang bermunculan di era reformasi ini, sebagai bagian dari tanggungjawab kita untuk mewujudkan gagasan multi partai yang sejak awal kita usung,” tandasnya.
Pertemuan dilanjutkan menunjuk tiga puluh tiga orang sebagai representasi dari 153 organisasi dan komunitas yang tercatat hadir pada kesempatan itu. Ketigapuluhtiga orang yang selanjutnya disebut Tim 33 itu mendapat amanah dari forum yang menyepakati wadah baru dengan nama Konsolidasi Arek Suraboyo (KAS). Amanat tersebut pada pokoknya adalah, menyusun langkah-langkah untuk mewujudkan gagasan pemerintahan baru kota Surabaya dalam kepemimpinan rakyat.
Wawan ’Kemplo’ Hendriyanto, salah satu penggagas konsolidasi, yang ditemui usai acara, menyerukan kepada segenap elemen rakyat untuk serius dan bersatu padu menghadapi momentum pilwali Surabaya. ”Saatnya rakyat tidak menjual suara,” tegasnya.
Aktivis pro demokrasi di Surabaya dari kalangan kampus (dosen dan mahasiswa), LSM, organisasi-organisasi di berbagai elemen masyarakat (pemuda, mahasiswa, akademisi, jurnalis, pengacara, pengusaha kecil, buruh, seniman), yang sejak tahun 80-an aktif melakukan perlawanan terhadap orde baru dan memimpin gerakan reformasi ’98 mengkonsolidir diri ke dalam pertemuan yang mereka beri judul ’Halal Bihalal & Konsolidasi Arek Suroboyo’. Pertemuan ini diadakan di Restoran Jumbo, Kompleks Kodikal, Bumimoro, Perak.
Mereka, yang selama sepuluh tahun terakhir ini banyak bergerak secara terpisah dalam mengemban medan gerak masing-masing, kini kembali membangun komitmen bersama menyikapi momentum pemilihan Wali Kota Surabaya 2010. Para demonstran ini bertekad memberikan pendidikan politik lebih kongkret dengan jalan melibatkan diri dalam pilwali kali ini, dan berniat memajukan calonnya sendiri dari jalur independen.
Pertemuan yang dipandu oleh Muhaji Abriyah, salah seorang tokoh pimpinan gerakan mahasiswa 98, berlangsung gayeng dan serius. Tokoh tua dan muda dari masing-masing elemen, menyampaikan pandangan-pandangannya terkait penataan Surabaya ke depan. Mulai dari apresiasi pemerintah terhadap kesenian yang disampaikan oleh Luhur, pelaku seni yang aktif di Dewan Kesenian Surabaya (DKS), sampai pada kritik keras Ridho Syaiful Ashari, mantan Direktur Walhi Surabaya terhadap pengelolaan lingkungan yang selama ini dinilai jauh dari baik.
Dandik Katjasungkana, pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Timur, yang didaulat mewakili gagasan kelompok pemuda, menegaskan maksud diadakannya pertemuan yang difasilitasi Perkumpulan Kebangsaan Anti Diskriminasi (PeKad) ini, ”Kita tidak usah bertele-tele lagi, langsung saja kerucutkan pembicaraan kita, pada mekanisme pencalonan Wali Kota Surabaya dari kita!”
Tjuk Sukiadi, akademisi Unair yang mewakili golongan tua, memandang politik sekarang dipimpin oleh uang. ”Ndak ada kalangan reformis mendapat ruang dalam politik sekarang ini,” tambahnya.
Fitradjaja Purnama yang mendapat giliran berbicara terakhir menerangkan, bahwa reformasi tidak gagal, meskipun disana-sini banyak kekurangan dan harus diperbaiki. Hanya saja, menurutnya, reformasi tidak berada di tangan rakyat, melainkan dikuasai oleh kepentingan asing yang meneruskan kolaborasinya dengan orang-orang lama yang menjadi bagian dari rezim orde baru. Namun, dia juga memandang, cukuplah reformasi sampai pada posisi sekarang ini. ”Kita sudah musti menata secara serius ke arah revolusi!” serunya.
Fitra juga memandang sudah waktunya kaum pergerakan mengelola politik dengan kekuasaan formal. ”Sudah cukup bagi kita mendampingi partai-partai politik yang bermunculan di era reformasi ini, sebagai bagian dari tanggungjawab kita untuk mewujudkan gagasan multi partai yang sejak awal kita usung,” tandasnya.
Pertemuan dilanjutkan menunjuk tiga puluh tiga orang sebagai representasi dari 153 organisasi dan komunitas yang tercatat hadir pada kesempatan itu. Ketigapuluhtiga orang yang selanjutnya disebut Tim 33 itu mendapat amanah dari forum yang menyepakati wadah baru dengan nama Konsolidasi Arek Suraboyo (KAS). Amanat tersebut pada pokoknya adalah, menyusun langkah-langkah untuk mewujudkan gagasan pemerintahan baru kota Surabaya dalam kepemimpinan rakyat.
Wawan ’Kemplo’ Hendriyanto, salah satu penggagas konsolidasi, yang ditemui usai acara, menyerukan kepada segenap elemen rakyat untuk serius dan bersatu padu menghadapi momentum pilwali Surabaya. ”Saatnya rakyat tidak menjual suara,” tegasnya.
Langganan:
Komentar (Atom)

